Free Mining Bitcoin

freeminingbitcoin.com - Free Mining Bitcoin

Jumat, 30 April 2021

Bapa Kok Berat Sih . . . ?

Jam 7 malam . . .
Sudah cukup lama aku berkutat dengan pekerjaanku. Aku bersiap-siap untuk meninggalkan kantor. Dengan enggan kuangkat tas berat itu ke pundakku. Beban yang menekan di pundakku terasa begitu mengganggu, tapi aku memang harus membawa tas ini.
Di perjalanan pulang, aku mengendarai sepeda motorku masih dengan konsentrasi pada tas yang membebani pundakku.
Seorang anak kecil menyeberang dengan sepedanya tanpa melihat ke kiri dan ke kanan.
Huh…!  Aku memaki dalam hati.
Kecil kecil sudah menyebalkan, gimana gedenya nanti…?
Aku melanjutkan perjalanan masih dengan sejuta omelan dalam hati.
Ingin rasanya cepat sampai di rumah, supaya aku bisa beristirahat.
Suara klakson yang berbunyi nyaring mengagetkan aku dari lamunanku.
Kulirik spion dan kulihat seorang anak muda dengan mobil mewahnya membunyikan klakson dengan
nada tak sabar.
Huuuuh…!  Kenapa sih dengan orang-orang ini?
Emangnya dia nggak lihat kalo jalanan emang lagi macet?
Emangnya dikira enak membawa tas seberat ini?
Ketika sampai di rumah, ternyata perasaan nyaman yang kuimpikan tak dapat kutemui.
Suasana hiruk pikuk
keluargaku terasa seperti dentuman-dentuman keras di kepalaku.
Lagi-lagi aku memaki dalam hati.
Aku capek.
Aku ingin istirahat.
Berat sekali yang harus aku angkat.
Kenapa sih nggak ada yang mau mengerti?

Malam hari . . .
Akhirnya aku memperoleh ketenangan. Aku bisa tidur dan beristirahat.
Tapi tas besar dan berat ini terasa mengganggu sekali.
Aku tak bisa tidur.
Tapi aku tak bisa melepaskannya.
Aku kesal.

"Bapa, kenapa sih berat sekali?
Sungguh-sungguh sangat mengganggu.... "
Aku mengeluh sambil meneteskan air mata.
"Mengapa engkau tidak meletakkan tas itu anakKu?"

"Tapi aku tak bisa Bapa"
"Kenapa?"

"Lihatlah, semua tas ini berlabelkan tanggung jawab.
Semua harus aku bawa setiap saat, aku tak bisa meletakkannya.

Tas hitam yang paling besar ini,
lihat tulisan di depannya, PEKERJAAN.
Semua tanggung jawab pekerjaanku ada di dalamnya.

Lalu yang coklat ini, KELUARGA. Aku juga tak bisa
meletakkannya. Semuanya adalah bebanku.

Dan yang biru ini, PELAYANAN. Engkau tentu tak ingin aku meletakkannya bukan?"
Aku berusaha menjelaskan.

Bapaku yang baik hanya tersenyum, lalu mendekatiku.
"Kemarilah, Aku ingin melihatnya."
Ia melihat tas hitam besar yang kuletakkan di pundakku.
"AnakKu, engkau dapat meletakkan tas ini. Ini memang
tanggung jawab pekerjaanmu. Dan engkau memang harus
menanggungnya. Namun saat engkau melangkah keluar dari
kantor, engkau dapat meletakkan tas ini di samping
meja kerjamu. Tenanglah, tidak akan ada yang
mengambilnya. Lagi pula semua isinya adalah tanggung
jawabmu bukan? Percayalah, tak akan ada yang tertarik
untuk mengambil tas ini, sehingga keesokan hari, saat
engkau kembali ke kantor, pasti tas ini akan tetap ada
di sana, dimana engkau meletakkannya. Dan engkau dapat
mengambilnya kembali dan melanjutkan tanggung
jawabmu".

Ia tersenyum menunggu jawabanku.
"Benar Bapa, tapi aku tak dapat meletakkannya. Ia
melekat terus di pundakku".

Ia menatapku dengan penuh kasih, lalu perlahan
mengambil tas itu dari pundakku.
"Kemarilah anakKu. Di saat engkau tak dapat
meletakkannya, Aku dapat membantumu untuk
meletakkannya. Dan esok, Aku pun dapat membantumu
untuk mengenakannya kembali."
Ia meletakkan tas hitam itu di dekat tempat tidurku.
Rasanya pundakku lega sekali.
Tas paling berat yang selalu menekanku telah diambil.
Aku menggerak-gerakkan pundakku sambil tersenyum.
"Engkau benar Bapa, rasanya enak sekali. Ringan. Besok
aku akan lebih siap untuk melanjutkan pekerjaanku.
Esok, pasti tas itu tidak akan terasa terlalu berat lagi".

Aku menatap wajah Bapaku yang penuh kasih.
Sungguh indah senyum dan sinar mataNya.
Ia menatap tas coklat di pundakku.
"Lalu itu? engkau tidak ingin meletakkannya juga?"
"Bapa, aku tidak bisa. Ini adalah tanggung jawab
KELUARGA. Kemanapun aku pergi aku harus membawanya."
"AnakKu, Aku sungguh bahagia karena engkau
memperhatikan setiap tanggung jawab yang kuberikan
padamu mengenai keluargamu.
Tapi engkau pun tak boleh lupa, bahwa keluargamupun
adalah milikKu. Dan aku memelihara setiap kepunyaanKu.

Engkau memang harus membawa tas itu bersamamu, tapi
sesekali letakkanlah, agar engkau dapat bermain dengan
bebas dengan keponakanmu, bercanda dengan kakakmu,
atau sekedar berbincang dan bercerita dengan orang
tuamu.
Rasanya belakangan ini Aku jarang melihatmu
melakukannya".


Aku tertunduk malu.
Ia benar. Aku membawa tas ini kemana-mana, dan kulaksanakan setiap tanggung jawab untuk keluargaku, tapi sepertinya ternyata tas ini menjadi jauh lebih
berharga dari pada kehadiran keluargaku sendiri.

Sekali lagi Bapa mengambil tas dari pundakku.
"Mari anakKu, letakkanlah. Di saat engkau perlu,
letakkanlah. Karena engkau dapat yakin, walaupun
engkau meletakkannya dan meluangkan waktu dengan
keluargamu, Akulah yang akan tetap menjagamu dan
keluargamu".

Dan pundakku menjadi jauh lebih lega.
Kini hanya tinggal satu tas biru yang masih memberati
pundakku.
"Bapa, tas yang satu ini sungguh-sungguh tak dapat
kuletakkan. Setiap saat setiap waktu aku harus membawanya. Karena setiap detik kehidupanku adalah pelayananku untukMu. Engkau tentu tak ingin aku meletakkannya bukan?"
"Hmm... benar juga".

Aku terkejut mendengar jawabanNya. Sepertinya agak tidak sesuai harapanku. Ia telah membantuku meletakkan kedua tasku sebelumnya, dan sepertinya aku sungguh-sungguh berharap agar tas ini juga dapat kulepaskan.
"Mari coba kulihat tas itu"
Ia melihat dan meraba tas biru yang masih melekat di
pundakku.
"Anakku, sepertinya ada yang salah dengan tasmu ini.
Kemarilah, coba lepaskan".
Ia mengambil tas biruku."Anakku, engkau benar. Aku ingin agar engkau selalu melayaniKu dalam setiap detik kehidupanmu. Dan percayalah, itu sungguh-sungguh menyenangkan hatiKu.
Tapi sepertinya tasmu ini bahannya terlalu berat, sehingga menekan pundakmu terlalu berat."

Kemudian Ia memberikan aku satu tas biru yang lain.
"Ini, pakailah tas ini sebagai gantinya. Ini merupakan tas dengan bahan KASIH. Jika engkau meletakkan semua pelayananmu di dalamnya, niscaya engkau tidak akan terbebani dengan tasmu ini".

Aku menerima tas baruku dari tanganNya, lalu memindahkan semua isi tas lamaku ke dalam tas berbahan KASIH itu. Aku mencoba mengangkatnya. Ternyata Bapaku benar.
Tas itu kini terasa ringan dan sungguh nyaman di pundakku.


Aku memandangNya penuh kasih.
"Terima kasih Bapa. Aku sungguh mengasihiMu. Terima
kasih untuk pelajaranMu hari ini".



* * * * *

Pagi ini aku memulai hari dengan senyuman.
Istirahatku sudah cukup. Dan aku siap untuk menghadapi tantangan hari ini.
Di perjalanan, aku masih tetap bertemu orang-orang yang menyebalkan, namun tidak lagi memaki dalam hati, melainkan aku berdoa untuk mereka.

Mungkin mereka juga masih selalu membawa tas mereka
kemana-mana atau mereka juga mengenakan tas dengan
bahan yang salah. Banyak sekali. Aku melihat ada yang
membawa dua tas besar, tiga bahkan empat. Tulisannya
pun bermacam-macam,
ada PEKERJAAN, KELUARGA, PELAYANAN, KULIAH, SEKOLAH, BISNIS,
dan masih banyak lagi.

Memang tanggung jawab adalah sesuatu yang harus kita
pikul dan harus kita selesaikan. Tapi kita pun harus tetap belajar untuk menempatkan di
saat mana kita harus mengangkat dan di saat mana kita harus meletakkan.

Dan aku terus belajar ...

* * * * *

Seseorang yang bijaksana pernah bertanya padaku:
"Mana yang lebih berat, mengangkat sebuah gelas dengan
satu tangan selama 1 jam penuh, atau mengangkat gelas
tersebut selama 10 menit lalu meletakkannya sejenak
dan mengangkatnya kembali selama 10 menit dan demikian
seterusnya sampai 1 jam?"
* * * * *
"Marilah kepadaKu, semua yang letih lesu dan berbeban berat. Aku akan memberi kelegaan kepadamu".Matius 11:28

"Sebab itu, janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri.
Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari".

Matius 6:34


<a href="https://freeminingbitcoin.com/82150"><img src="https://freeminingbitcoin.com/images/728x90.gif" alt="freeminingbitcoin.com - Free Mining Bitcoin"/></a>

Free Mining Bitcoin

 <a href="https://freeminingbitcoin.com/82150"><img src="https://freeminingbitcoin.com/images/728x90.gif" alt="freeminingbitcoin.com - Free Mining Bitcoin"/></a>

Minggu, 03 Februari 2013

Bapa Kok Berat Sih . . . ?

Jam 7 malam . . .
Sudah cukup lama aku berkutat dengan pekerjaanku. Aku bersiap-siap untuk meninggalkan kantor. Dengan enggan kuangkat tas berat itu ke pundakku. Beban yang menekan di pundakku terasa begitu mengganggu, tapi aku memang harus membawa tas ini.
Di perjalanan pulang, aku mengendarai sepeda motorku masih dengan konsentrasi pada tas yang membebani pundakku.
Seorang anak kecil menyeberang dengan sepedanya tanpa melihat ke kiri dan ke kanan.
Huh…!  Aku memaki dalam hati.
Kecil kecil sudah menyebalkan, gimana gedenya nanti…?
Aku melanjutkan perjalanan masih dengan sejuta omelan dalam hati.
Ingin rasanya cepat sampai di rumah, supaya aku bisa beristirahat.
Suara klakson yang berbunyi nyaring mengagetkan aku dari lamunanku.
Kulirik spion dan kulihat seorang anak muda dengan mobil mewahnya membunyikan klakson dengan
nada tak sabar.
Huuuuh…!  Kenapa sih dengan orang-orang ini?
Emangnya dia nggak lihat kalo jalanan emang lagi macet?
Emangnya dikira enak membawa tas seberat ini?
Ketika sampai di rumah, ternyata perasaan nyaman yang kuimpikan tak dapat kutemui.
Suasana hiruk pikuk
keluargaku terasa seperti dentuman-dentuman keras di kepalaku.
Lagi-lagi aku memaki dalam hati.
Aku capek.
Aku ingin istirahat.
Berat sekali yang harus aku angkat.
Kenapa sih nggak ada yang mau mengerti?

Malam hari . . .
Akhirnya aku memperoleh ketenangan. Aku bisa tidur dan beristirahat.
Tapi tas besar dan berat ini terasa mengganggu sekali.
Aku tak bisa tidur.
Tapi aku tak bisa melepaskannya.
Aku kesal.

"Bapa, kenapa sih berat sekali?
Sungguh-sungguh sangat mengganggu.... "
Aku mengeluh sambil meneteskan air mata.
"Mengapa engkau tidak meletakkan tas itu anakKu?"

"Tapi aku tak bisa Bapa"
"Kenapa?"

"Lihatlah, semua tas ini berlabelkan tanggung jawab.
Semua harus aku bawa setiap saat, aku tak bisa meletakkannya.

Tas hitam yang paling besar ini,
lihat tulisan di depannya, PEKERJAAN.
Semua tanggung jawab pekerjaanku ada di dalamnya.

Lalu yang coklat ini, KELUARGA. Aku juga tak bisa
meletakkannya. Semuanya adalah bebanku.

Dan yang biru ini, PELAYANAN. Engkau tentu tak ingin aku meletakkannya bukan?"
Aku berusaha menjelaskan.

Bapaku yang baik hanya tersenyum, lalu mendekatiku.
"Kemarilah, Aku ingin melihatnya."
Ia melihat tas hitam besar yang kuletakkan di pundakku.
"AnakKu, engkau dapat meletakkan tas ini. Ini memang
tanggung jawab pekerjaanmu. Dan engkau memang harus
menanggungnya. Namun saat engkau melangkah keluar dari
kantor, engkau dapat meletakkan tas ini di samping
meja kerjamu. Tenanglah, tidak akan ada yang
mengambilnya. Lagi pula semua isinya adalah tanggung
jawabmu bukan? Percayalah, tak akan ada yang tertarik
untuk mengambil tas ini, sehingga keesokan hari, saat
engkau kembali ke kantor, pasti tas ini akan tetap ada
di sana, dimana engkau meletakkannya. Dan engkau dapat
mengambilnya kembali dan melanjutkan tanggung
jawabmu".

Ia tersenyum menunggu jawabanku.
"Benar Bapa, tapi aku tak dapat meletakkannya. Ia
melekat terus di pundakku".

Ia menatapku dengan penuh kasih, lalu perlahan
mengambil tas itu dari pundakku.
"Kemarilah anakKu. Di saat engkau tak dapat
meletakkannya, Aku dapat membantumu untuk
meletakkannya. Dan esok, Aku pun dapat membantumu
untuk mengenakannya kembali."
Ia meletakkan tas hitam itu di dekat tempat tidurku.
Rasanya pundakku lega sekali.
Tas paling berat yang selalu menekanku telah diambil.
Aku menggerak-gerakkan pundakku sambil tersenyum.
"Engkau benar Bapa, rasanya enak sekali. Ringan. Besok
aku akan lebih siap untuk melanjutkan pekerjaanku.
Esok, pasti tas itu tidak akan terasa terlalu berat lagi".

Aku menatap wajah Bapaku yang penuh kasih.
Sungguh indah senyum dan sinar mataNya.
Ia menatap tas coklat di pundakku.
"Lalu itu? engkau tidak ingin meletakkannya juga?"
"Bapa, aku tidak bisa. Ini adalah tanggung jawab
KELUARGA. Kemanapun aku pergi aku harus membawanya."
"AnakKu, Aku sungguh bahagia karena engkau
memperhatikan setiap tanggung jawab yang kuberikan
padamu mengenai keluargamu.
Tapi engkau pun tak boleh lupa, bahwa keluargamupun
adalah milikKu. Dan aku memelihara setiap kepunyaanKu.

Engkau memang harus membawa tas itu bersamamu, tapi
sesekali letakkanlah, agar engkau dapat bermain dengan
bebas dengan keponakanmu, bercanda dengan kakakmu,
atau sekedar berbincang dan bercerita dengan orang
tuamu.
Rasanya belakangan ini Aku jarang melihatmu
melakukannya".


Aku tertunduk malu.
Ia benar. Aku membawa tas ini kemana-mana, dan kulaksanakan setiap tanggung jawab untuk keluargaku, tapi sepertinya ternyata tas ini menjadi jauh lebih
berharga dari pada kehadiran keluargaku sendiri.

Sekali lagi Bapa mengambil tas dari pundakku.
"Mari anakKu, letakkanlah. Di saat engkau perlu,
letakkanlah. Karena engkau dapat yakin, walaupun
engkau meletakkannya dan meluangkan waktu dengan
keluargamu, Akulah yang akan tetap menjagamu dan
keluargamu".

Dan pundakku menjadi jauh lebih lega.
Kini hanya tinggal satu tas biru yang masih memberati
pundakku.
"Bapa, tas yang satu ini sungguh-sungguh tak dapat
kuletakkan. Setiap saat setiap waktu aku harus membawanya. Karena setiap detik kehidupanku adalah pelayananku untukMu. Engkau tentu tak ingin aku meletakkannya bukan?"
"Hmm... benar juga".

Aku terkejut mendengar jawabanNya. Sepertinya agak tidak sesuai harapanku. Ia telah membantuku meletakkan kedua tasku sebelumnya, dan sepertinya aku sungguh-sungguh berharap agar tas ini juga dapat kulepaskan.
"Mari coba kulihat tas itu"
Ia melihat dan meraba tas biru yang masih melekat di
pundakku.
"Anakku, sepertinya ada yang salah dengan tasmu ini.
Kemarilah, coba lepaskan".
Ia mengambil tas biruku."Anakku, engkau benar. Aku ingin agar engkau selalu melayaniKu dalam setiap detik kehidupanmu. Dan percayalah, itu sungguh-sungguh menyenangkan hatiKu.
Tapi sepertinya tasmu ini bahannya terlalu berat, sehingga menekan pundakmu terlalu berat."

Kemudian Ia memberikan aku satu tas biru yang lain.
"Ini, pakailah tas ini sebagai gantinya. Ini merupakan tas dengan bahan KASIH. Jika engkau meletakkan semua pelayananmu di dalamnya, niscaya engkau tidak akan terbebani dengan tasmu ini".

Aku menerima tas baruku dari tanganNya, lalu memindahkan semua isi tas lamaku ke dalam tas berbahan KASIH itu. Aku mencoba mengangkatnya. Ternyata Bapaku benar.
Tas itu kini terasa ringan dan sungguh nyaman di pundakku.


Aku memandangNya penuh kasih.
"Terima kasih Bapa. Aku sungguh mengasihiMu. Terima
kasih untuk pelajaranMu hari ini".



* * * * *

Pagi ini aku memulai hari dengan senyuman.
Istirahatku sudah cukup. Dan aku siap untuk menghadapi tantangan hari ini.
Di perjalanan, aku masih tetap bertemu orang-orang yang menyebalkan, namun tidak lagi memaki dalam hati, melainkan aku berdoa untuk mereka.

Mungkin mereka juga masih selalu membawa tas mereka
kemana-mana atau mereka juga mengenakan tas dengan
bahan yang salah. Banyak sekali. Aku melihat ada yang
membawa dua tas besar, tiga bahkan empat. Tulisannya
pun bermacam-macam,
ada PEKERJAAN, KELUARGA, PELAYANAN, KULIAH, SEKOLAH, BISNIS,
dan masih banyak lagi.

Memang tanggung jawab adalah sesuatu yang harus kita
pikul dan harus kita selesaikan. Tapi kita pun harus tetap belajar untuk menempatkan di
saat mana kita harus mengangkat dan di saat mana kita harus meletakkan.

Dan aku terus belajar ...

* * * * *

Seseorang yang bijaksana pernah bertanya padaku:
"Mana yang lebih berat, mengangkat sebuah gelas dengan
satu tangan selama 1 jam penuh, atau mengangkat gelas
tersebut selama 10 menit lalu meletakkannya sejenak
dan mengangkatnya kembali selama 10 menit dan demikian
seterusnya sampai 1 jam?"
* * * * *
"Marilah kepadaKu, semua yang letih lesu dan berbeban berat. Aku akan memberi kelegaan kepadamu".Matius 11:28

"Sebab itu, janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri.
Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari".

Matius 6:34

Rabu, 30 Januari 2013

Sebuah Kehidupan Dengan Prioritas

Aku telah mempermuliakan Engkau di bumi dengan jalan menyelesaikan pekerjaan yang Engkau berikan kepada-Ku untuk melakukannya.
Yohanes 17:4
Saat Petrus masih seorang nelayan muda di Galilea, tak seorangpun akan berpikir bahwa ia ditentukan untuk menjadi seorang pemimpin yang penuh semangat dari sebuah pergerakan dunia. Lagi pula, ia hampir tidak mempunyai pendidikan dan mungkin akan bahagia hidup seumur hidupnya sebagai orang yang tidak terkenal. Tapi Elohim mempunyai sesuatu yang lain baginya, dan saat Petrus bertemu Yesus, prioritas-prioritasnya mulai berubah.

Seperti banyak pemimpin, Petrus harus belajar bagaimana mendahulukan hal-hal yang lebih penting. Firman Tuhan menyatakan banyak tentang ketidakkonsitenan tingkah laku dan keputusannya yang tidak rasional. Tetapi semakin banyak waktu yang dihabiskan Petrus bersama Yesus, semakin banyak ia belajar tentang perbedaan antara kegiatan saja dan keberhasilan.

Seperti Petrus, para pemimpin besar disaring melalui banyak  hal yang menuntut waktu mereka, dan mereka mengerti bukan saja apa yang perlu dilakukan lebih dahulu, tetapi juga apa yang tidak perlu dilakukan sama sekali. Itu dimulai dari suatu kerinduan untuk menjadi yang utama.

Jika Anda memusatkan perhatian kerinduan Anda pada apa yang paling penting, kepemimpinan Anda naik ke tingkat-tingkat baru.

Apa Bedanya…?

Ada 3 kaleng coca cola,
ketiga kaleng tersebut diproduksi di pabrik yang sama.
Ketika tiba hari,
sebuah truk datang ke pabrik mengangkut kaleng-kaleng coca cola
dan menuju ke tempat yang berbeda untuk pendistribusian

Pemberhentian pertama adalah supermaket lokal.
Kaleng coca cola pertama di turunkan disini.
Kaleng itu dipajang di rak bersama dengan kaleng coca cola lainnya
dan diberi harga Rp. 4.000.

Pemberhentian kedua adalah pusat perbelanjaan besar.
Di sana , kaleng kedua diturunkan.
Kaleng tersebut ditempatkan di dalam kulkas supaya dingin
dan dijual dengan harga Rp. 7.500.

Pemberhentian terakhir adalah hotel bintang 5 yang sangat mewah.
Kaleng coca cola ketiga diturunkan di sana .
Kaleng ini tidak ditempatkan di rak atau di dalam kulkas.
Kaleng ini hanya akan dikeluarkan jika ada pesanan dari pelanggan.
Dan ketika keluarkan,
kaleng ini dikeluarkan bersama dengan gelas kristal berisi batu es.
Semua disajikan di atas baki dan pelayan hotel akan membuka kaleng coca cola itu,
menuangkannya ke dalam gelas dan dengan sopan menyajikannya ke pelanggan.
Harganya Rp. 60.000.

Sekarang, pertanyaannya adalah :
Mengapa ketiga kaleng coca cola tersebut memiliki harga yang berbeda
padahal diproduksi dari pabrik yang sama,
diantar dengan truk yang sama dan bahkan mereka memiliki rasa yang sama?
Lingkungan mencerminkan harga. Lingkungan berbicara tentang “RELATIONSHIP” . . .
Apabila berada dilingkungan yang bisa mengeluarkan terbaik dari dalam diri,
maka akan menjadi cemerlang.
Tapi bila berada dilingkungan yang meng-kerdil- kan diri
maka akan menjadi kerdil.
Perhatikan Rumus Berikut:

Oáµ´ + ℓβ = Ň≠

Keterangan :
Oáµ´        = Orang yang sama, bakat yang sama, kemampuan yang sama.
ℓβ         =  lingkungan yang berbeda
Ň≠        = NILAI YANG BERBEDA

Senin, 28 Januari 2013

Belajar Membangun Relasi dalam Kehidupan Remaja yang Sehat


Oleh   : David L.P Sumarsono

Kehidupan remaja berbeda dengan kehidupan anak-anak maupun orang dewasa. Remaja itu unik. Banyak hal yang terjadi dalam kehidupan remaja, baik itu positif ataupun menjurus ke hal negatif. Berjalan dengan perkembangan fisik yang cepat, berkembang pula kemampuan intelektual berpikirnya. Pada SMP berkembanglah kemampuan berpikir  abstrak, remaja sudah mampu membayangkan apa yang akan dialami bila terjadi suatu peristiwa seperti perang, akhir zaman dan lain sebagainya.
Berkembangnya kemampuan berpikir formal operasional pada remaja ditandai dengan tiga hal penting, yaitu:

1.      Remaja mulai mampu melihat/berpikir tentang kemungkinan-kemungkinan.
2.      Remaja mampu berpikir ilmiah, merumuskan masalah, membatasi masalah, menyusun hipotesis, mengumpulkan dan mengolah data sampai dengan menarik kesimpulan-kesimpulan.
3.      Remaja mampu memadukan ide-ide secara logis.

Tidak bisa disangkal, dalam menginjak masa remaja awal sikap egosentrisme sering kali muncul. Hal ini diakibatkan mereka sering kali menghadapi kebingungan antara pemikiran orang lain. Pada masa masa inilah, kita sebagai pendidik tidak boleh tinggal diam. Bila hal ini terus didiamkan, remaja akan bertumbuh sebagai orang yang tertutup dan sulit untuk membangun relasi. Belajar membangun relasi diperlukan untuk menumbuh kembangkan pemikiran anak dalam hal bersosial sehingga nantinya ketika anak menjadi dewasa, mereka dapat hidup bermasyarakat. 

Salah satu cara mengajarkan  anak membangun relasi dan kerjasama adalah memberikan tugas kelompok. Dalam praktikum, hal ini sangat membantu anak, sehingga anak dapat membangun relasi dan kerjasama sejak usia remaja. Diharapkan dengan diajarkannya membangun relasi dan kerjasama yang sehat sejak dini, remaja-remaja ini dapat terhindar dari pergaulan-pergaulan buruk yang dapat merusak masa depan remaja.

Tak jarang karena kurangnya didikan yang benar dalam hal pembagunan relasi ini,  remaja mulai dibelokkan oleh trend dunia dengan segala kenikmatannya. Pergaulan bebas, narkotika, dan gang yang tidak sehat siap menelan remaja yang tidak mendapatkan pendidikan agama dan karakter yang benar. Oleh karena itu, marilah segenap pendidik kita selamatkan jiwa-jiwa remaja ini denganmengajarkan pergaulan yang benar di dalam Tuhan.
Tuhan Yesus memberkati.

VISI SEKOLAH TONGKAT HARUN
MELAHIRKAN GENERASI YANG HIDUP DALAM KEBENARAN MENJADI TERANG DUNIA

Sebab Engkaulah harapanku, ya Tuhan,
kepercayaanku sejak masa muda, ya TUHAN.
Mazmur 71:5

Belajar Menyenangkan di Laboratorium


Oleh    : David L.P Sumarsono




 
"Fisika itu memusingkan! “ kata seorang siswa kepada saya. Banyak siswa di berbagai sekolah mengeluh akan hal ini. Fisika adalah bagian dari ilmu sains yang tidak bisa lepas dari kehidupan manusia sehari-hari. Dahulunya ketika saya menginjakkan kaki di SMP dan mulai mempelajari Fisika, saya bertanya-tanya apakah Fisika itu berfungsi bagi kehidupan manusia? Mengapa Fisika mengukur kecepatan benda jatuh? Mengapa benda jatuh? Berapa kekuatan hantamannya ke tanah? Bukankah hal ini adalah hal yang aneh dan sia-sia untuk dikerjakan? Seperti kurang kerjaan saja ukur kecepatan durian  jatuh, durian  jatuh ya dimakan, itu pemikiran sempit saya saat menginjakkan kaki di SMP dan mempelajari Fisika.
Akan tetapi semakin dipelajari Fisika itu semakin asyik. Ternyata Fisika itu berfungsi bagi kehidupan manuasia jika itu difungsikan dengan benar. Kita bisa berbincang-bincang dengan teman kita di Kalimantan, Sumatra, Papua bahkan di Amerika sekalipun, karena perkembangan tekhnologi yang merupakan hasil karya Fisika. Luar biasa bukan? Sambil duduk kita bisa melihat pertandingan Liga Inggris, meskipun kita tidak ada di Inggris. Bayangkan berapa uang yang harus kita keluarkan apabila kita ingin nonton Ronaldo main bola , tapi kita harus pergi dulu ke Inggris. Tapi dengan ilmu Fisika dalam perkembangan tekhnologi, kita bisa dengan santai nonton Ronaldo mencetak gol. Tapi perlu juga diingat, ilmu Fisika tanpa penanaman takut akan TUHAN akan berdampak hal yang buruk dalam kehidupan manusia. Kita ingat akan kasus bom Bali, kasus pembobolan ATM, senjata rakitan yang digunakan untuk kejahatan dan lain sebagainya yang meresahkan bahkan menelan banyak korban jiwa. Oleh karena itu perlunya pendidikan yang seimbang antara rohani, karakter dan akademik anak. Sekolah Tongkat Harun adalah wadah untuk mengembangkan potensi akademis anak tanpa mengabaikan rohani dan karakter  anak. Visi kami,  “Melahirkan Generasi Yang Hidup dalam Kebenaran Menjadi Terang Dunia”, bukan hanya menekankan satu sisi saja dalam pribadi anak, tapi ketiga-tiganya: rohani, karakter dan akademik yang seimbang. Raja Salomo katakan, “takut akan TUHAN adalah permulaan pengetahuan, ...”(Amsal 1:7a), jadi tanpa adanya takut akan TUHAN, sia-sia dan tak berfaedahlah ilmu itu.

“Seperti kurang kerjaan saja ukur kecepatan durian  jatuh, durian  jatuh ya dimakan...”
Apa yang sebenarnya membuat anak susah dan bosan mempelajari Fisika? Salah satu survey mengatakan bahwa anak bosan dengan cara belajar yang itu-itu saja di kelas, menulis, membaca, mengerjakan soal mendengarkan ceramah guru di kelas yang hanya monoton, tanpa menyinggung kehidupan sehari-hari dan tidak ada praktik. Fisika itu luas, dan Fisika itu perlu praktik nyata. Kita sebagai guru jangan membuat pelajaran Fisika itu beban bagi anak, tapi ciptakanlah suasana yang menyenangkan  saat belajar fisika. Berikut ini beberapa tips agar pelajaran Fisika menjadi menyenangkan :
1.    Masuklah ke kelas dengan wajah yang ceria dan bersemangat. Ini adalah poin utama mendapatkan hati anak-anak untuk semangat belajar.
2.    Mulailah pembelajaran dengan doa bersama dengan anak-anak. Dengan doa, kita mengandalkan Tuhan, bukan pribadi kita.
3.    Ciptakan suasana yang ceria di kelas, ingat suasana yang tegang dapat mengurangi konsentrasi anak. Secara psikologis, susana yang nyaman dan menyenangkan akan membuat anak betah di kelas.
4.    Manfaatkan laboratorium dan alat peraga di kelas.
5.    Berikan PR yang memancing rasa tahu anak dalam fisika, terutama yang menyinggung langsung dengan  kehidupan  mereka di rumah.
Salah satu poin utama dalam Fisika adalah praktikum. Siswa akan lebih memahami materi yang disampaikan apabila materi itu dipraktikkan. Salah satu prasarana yang menunjang dalam praktikum adalah laboratorium sekolah. Laboratorium bukan hanya sebagai tempat untuk menyimpan alat-alat IPA, tapi di sanalah kita dapat mempraktikkan materi yang kita ajarkan. Di laboratorium kita dapat belajar dengan rileks tapi tertib, ceria tapi serius.
Alam terbuka di sekitar sekolah juga dapat membantu kita menyampaikan materi pembelajaran, jadi pembelajaran tidak harus selalu dilaksanakan di kelas, yang terpenting di sini adalah guru dapat menyampaikan materi dan anak-anak dapat menerimanya. Guru haruslah aktif, kreatif, ceria dan bersemangat. Oleh karena itu marilah kita menjadikan suasana belajar yang nyaman bagi anak didikan kita, sehingga merekapun bersemangat menerima pembelajaran.

Tuhan Yesus memberkati